ontologi

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret.Ontologi membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasan realitas.

Ilmu merupakan kegiatan untuk mencari suatu pengetahuan dengan jalan melakukan pengamatan atau pun penelitian, kemudian peneliti atau pengamat tersebut berusaha membuat penjelasan mengenai hasil pengamatan atau penelitiannya tersebut. Dengan demikian, ilmu merupakan suatu kegiatan yang sifatnya operasional. Jadi terdapat runtut yang jelas dari mana suatu ilmu pengetahuan berasal.Karena sifat yang operasional tersebut, ilmu pengetahuan tidak dapat menempatkan diri dengan mengambil bagian dalam pengkajiannya. Maka dari pendahuluan ini saya akan merumuskan masalah apa saja yang ada dalam penjelasan makalah ini.

2. RUMUSAN MASALAH

  1. 1. Pengertian ontologi menurut para tokoh-tokoh filsafat?
  2. 2. Objek kajian filsafat ilmu aspek ontologi?
  3. 3. Persoalan-persoalan filsafat ilmu aspek ontologi?

3. TUJUAN

  1. 1. Memahami pengertian ontologi.
  2. 2. Mengetahui persoalan apa saja yang ada pada aspek ontologi.
  3. 3. Mengetahui objek kajian filsafat ilmu aspek ontologi.

PEMBAHASAN

  1. 1. Pengertian Ontologi

Menurut  bahasa, Ontologi  berasal dari  bahasa  Yunani  yaitu : On/Ontos = ada, dan Logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut istilah Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.[1]

Ada beberapa pengertian ontology menurut para tokoh-tokoh filsafat diantaranya:

A. Menurut Suriasumantri (1985),

Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :

a) apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,

b) bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan

c) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti    berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.

4. Menurut Soetriono & Hanafie (2007)

Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.

B. Menurut Pandangan The Liang Gie

Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan:

  • ·             Apakah artinya ada, hal ada?
  • ·             Apakah golongan-golongan dari hal yang ada?
  • · Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada?
  • ·             Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada ? [2]

C.Menurut Ensiklopedi Britannica Yang juga diangkat dari Konsepsi Aristoteles

Ontologi Yaitu teori atau studi tentang being / wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas. Ontologi sinonim dengan metafisika yaitu, studi filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti , struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi ini didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM)

Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu.

Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.[3]

  1. 2. Menanggapi kenyataan yang terdalam

Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidaikan kefalsafatan yang paling kuno. Awal mula pikiran Barat yang tertua di antara segenap filsuf Barat yang kita kelan ialah orang Yunani yang bijak dan arif yang bernama Thales. Atas perenungannya terhadap air yang terdapat dimana-mana, ia sempai pada kesimpulan bahwa air merupakan subtansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu. Yang penting bagi kita sesungguhnya bukanlah ajaran-ajarannya yang mengatakan bahwa air itulah asal mula segala sesuatu, melainkan pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu berasal dari satu subtansi belaka

Thalas merupakan orang pertama yang berpendirian sangat berbeda di tengah-tengah pandangan umum yang berlaku saat itu. Disinilah letak pentingnya tokoh tersebut. Kecuali dirinya, semua orang waktu itu memandang segala sesuatu sebagaimana keadaan yang wajar. Apabila mereka menjumpai kayu, besi, air, danging, dan sebagainya, hal-hal tersebut dipandang sebagai subtansi-subtansi (yang terdiri sendiri-sendiri). Dengan kata lain, bagi kebanyakan orang tidaklah ada pemeliharaan antara kenampakan (appearance) dangan kenyataan (reality).

Jarang terjadi sekali, si polon (orang kebanyakan) umpamanya, menjadi sadar apa yang secara selayang pandang tampak sabagai makanan yang sedap, namun setelah dicicipinya ternyata  sebatang lilin dan sama sekali bukan makanan. Jika kita menginginkan suatu istilah yang dapat diterapkan kepada orang kebanyakan semacam itu, kiranya mereka dapat dinamakan para penganut paham pluralisme yang bersahaja di bidang ontologi. Dikatakan bersahaja kerena segala sesuatu di pandang dalam keadaan yang wajar. Dikatakan penganut paham pluralisme kerena perpendirian ada banyak subtansi yang terdalam.

  1. A. Ontologi yang bersahaja

Kebanyakan orang setidak-tidaknya mengadakan pembedaan antara barang-barang yang dapat dilihat, diraba, yang tidak bersifat kejasmanian atau yang dipahamkan “jiwa”. Kadang-kadang orang banyak menjumpai mereka yang berpendirian bahwa sesungguhnya jiwa itu tidak ada, yang ada dalam kenyataan ialah barang-barang kejasmanian. Pertimbangan keselamatan diri mereka.

Tetapi kadang-kadang mereka sangat resah akan ajaran-ajaran semacam itu. Mungkin sekali mereka memaki-maki dengan keres para penganut paham meterialisme tersebut, atau mungkin mereka juga setelah mendengar pendirian tersebut beristirahat sejenak menjauhi keramaian dunia dan memikirkan masalah tersebut sambil bertanya-tanya: siapakah sesungguhnya yang benar dalam hal ini? Dan sesungguhnya apakah hakekatnya itu?

Yang demikian ini merupakan pertanyaan di bidang ontologi. Selanjutnya dapat menyababkan pertanyaan-pertanyaan lain seperti: hubungan apakah yang terdapat di antara berbagai bagian dari keyataan dan bagaimanakah caranya kenyataan itu berubah? Pernyataanpernyataan semacam ini di acap kali dinamakan pertanyaan-pertanyaan ‘di bidang kosmologi’, sebab menyangkut ketertiban serta tatanan kenyataan, dan bukan hakekatnya yang terdalam.

B. Ontologi kuantitatif dan kualitatif

Ontologi dapat mendekati masalah hakekat kenyataan dari dua macam sudut pandang. Orang mempertanyakan, “kenyataan itu tunggal atau jamak?” yang demikian ini merupakan pendekatan secara kauntitatif. Atau orang dapat juga mengajukan pertayaan, “dalam bab terahir, apakah yang merupakan kenyataan itu?” yang demikian ini merupakan pendekatan secara kualitatif. Dalam hubungan tertentu, segenap masalah dibidang ontologi dapat dikembalikan kepada sejumlah pertanyaan yang bersifat umum, seperti “bagaimanakah cara kita hendak membicarakan kenyataan?”

Kiranya jelas, penyifati-penyifati yang satu dan sama dapat diberikan kepada segenap segi kenyataan, maka kenyataan itu tunggal. Kesimpulan diatas dapt ditarik, karena juga terdapat dua bagian kenyataan yang berbeda-beda, maka keadaannya yang berbeda-beda itu, pastilah ada salah satu penyifatan yang tidak dapat diberikan kepada seluruh yang ada.

C. Istilah-istilah dasar dalam bidang ontologi

Sebagaimana telah dikatakan filsafat dapat dipandang sebagai sejenis bahasa yang bertugas sebagai alat yang membahas segala sesuatu. Sesuai dengan pendapat ini, maka usaha pertama untuk memahami ontologi ialah menyusun daftar dan memberikan keterangan mengenai sejumlah istilah dasar yang digunakan di dalamnya.

Di antara istilah-istilah terpenting yang terdapat dalam bidang antologi ialah: yang-ada (being), kenyataan (reality), eksistensi (existence), perubahan (change), tunggal (one), jamak (many). Pertama-tama akan dibahas adalah isi atau makna yang terkandung oleh istilah-istilah tersebut, termasuk di dalamnya, sejumlah pernyatan yang menggunakan istilah-istilah tadi.[4]

  1. 3. Aspek Ontologi (Hakekat Jenis Ilmu Pengetahuan)

ontologi, dalam bahasa Inggris ‘ontology’, berakar dari bahasa yunani ‘on’ berarti ada, dan ‘ontos’ berarti keberadaan. Sedangkan ‘logos’  berarti pemikiran. Jadi, antologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaan.  Selanjutnya menurut A.R. Lacey, antologi diartikan sebagai “a central part of metaphisics” (bagian sentral dari metafisika). Sedangkan metafisika diartikan sebagai “that which comes after ‘physics’,………the study of nature in generla”. (hal yang hadir setelah fisika,………..study umum mengenai alam). Dalam metafisika, pada dasarnya dipersoalkan mengenai substansi atau hakikat alam semesta. Apakah alam semesta iniberhakikat monistik atau pluralistic, bersifat tetap atau berubah-ubah, dan apakah alam semesta ini merupakan kesungguhan (actual) atau kemungkinan (potency).

Beberapa karekteristik ontology seperti diungkapkan oleh Bagus, antara lain dapat disederhanakan sebagai berikut:

  1. a. Ontologi adalah study tentang arti “ada” dan “berada”, tentang cirri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendirinya, menurut bentuknya yang paling abstrak.
  2. b. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan katagori-katagori seperti: ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, nyata atau penampakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan, dan sebagainya
  3. c. Ontologi adalah cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat terakhir yang ada, yaitu yang satu, yang absolute, bentuk abadi, sempurna, dan keberadaan segala sesuatu yang mutlak bergantung kepada-nya.
  4. d. Cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.[5]

Seperti telah diungkap diatas, hakikat abstrak atau jenis menentukan kesatuan (kesamaan ) dari berbagai macam jenis, bentuk dan sifat hal-hal atau barang-barang yang berbeda-beda dan terpisah-pisah,. Perbedaan dan keterpisahan dari orang-orang bernama Socrates, Plato, Aristoteles dan sebagainya, terikat dalam satu kesamaan sebagai manusia. Manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda lain yang berbeda-beda dan terpisah-pisah, tyersatukan dengan kesamaan jenis sebagai makhluk. Jadi, hakikat jenis dapat dipahami sebagai titik sifat abstrak tertinggi daripada sesuatu hal (an ultimate nature of a thing). Pada titik abstrak tertinggi inilah segala macam perbedaan dan keterpisahan menyatu dalam subtansi dalam filsafat, study mengenai hakikat jenis atau hakikat abstrak ini masuk kedalam bidang metafisika umum (general metaphisics) atau ontology. Oleh sebab itu, pembahasan tentang hakikat jenis ilmu pengetahuan berarti membahas ilmu pengetahuan secara ontologis. Persoalannya adalah sejauh mana fakta perbedaan dan keterpisahan ilmu pengetahuan ini merupakan kesungguhan (actus) atau kemungkinan (potency), dalam arti seharusnya ilmu pengetahuan itu tentang pluralistic atau monolistik?.[6]

Secara ontologis, artinya secara metafisika umum, objek materi yang dipelajari didalam pluralitas ilmu pengetahuan, bersifat monistik pada tingkat yang paling abstrak. Seluruh objek materi pluralitas ilmu pengetahuan, seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan zat kebendaan berada pada tingkat abstrak tertinggi yaitu dalam kesatuan dan kesamaan sebagai makhluk. Kenyataan itu mendasari dan menentukan kesatuan pluralitas ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, pluralitas ilmu pengetahuan berhakikat satu, yaitu dalam kesatuan objek materinya.

Disamping objek materi, keradaan ilmu pengetahuan juga lebih ditentukan oleh objek forma. Objek forma ini sering dipahami sebagai sudut atau titik pandang (point of view), selanjutnya menentukan ruang lingkup study (scope of the study). Berdasarkan ruang lingkup studi inilah selanjutnya ilmu pengetahuan berkembang menjadi plural, berbeda-beda dan cenderung saling terpisah antara satu dengan yang lain. Berdasarkan pada objek forma, selanjutnya ilmu pengetahuan cenderung dikembangkan menjadi plural sesuai dengan jumlah dan jenis bagian yang ada didalam objek meteri. Dari objek materi yang sama dapat menimbulkan cabang-cabang ilmu pengetahuan yang plural dan berbeda-beda. Dari objek materi manusia, misalnya: melahirkan ilmu sejarah, antropologi, sosiologi, psikologi, dan ilmu pendidikan dengan ranting-rantingnya. Dari objek materi alam, melahirkan ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu biologi, dan matematika dengan ranting-rantingnya.

Jadi secara ontologis, hakikat pluralitas ilmu pengetahuan menurut perbedaan objek forma itu tetap dalam kesatuan system, baik “interdisipliner” maupun “multidisipliner”. Interdisipliner artinya keterkaitan antar pluralitas ilmu pengetahuan dalam objek materi yang sama, dan multidisipliner artinya keterkaitan antar pluralitas ilmu pengetahuan dalam objek materi yang berbeda. Berdasarkan kedua system tersebut, perbedaan antar ilmu pengetahuan justru mendapatkan validitasnya, tetapi secara ontologios pemisahan atas perbedaan ilmu pengetahuan yang berbeda-beda berkonsekuensi negative berupa perilaku disorder (pengrusakan) terhadap realitas kehidupan .disamping, pendekatan kuantitatif menurut objek materi dan objek forma terhadap pemecahan masalah hakikat ilmu pengetahuan, secara ontologis masih ada pendekatan kualitatif. Melalui pendekatan kualitatif, persoalan yang sama, yaitu aspek ontology ilmu pengetahuan dengan persoalan hakikat keberadaan pluralitas ilmu pengetahuan, dapat digolongkan kedalam tingkat-tingkat abstrak universal, teoretis potensial dan konkret fungsional.[7]

Pada tingkat abstrak universal, pluralitas ilmu pengetahuan tidak tampak. Pada tingka ini yang menampak adalah ilmu pengetahuan itu satu dalam jenis, sifat dan bentuknya didalam ilmu pengetahuan ‘filsafat’. Karena filsafat memandang suatu objek materi menurut seluruh segi atau sudut yang ada didalamnya.dari keseluruhan segi itulah filsafat mempersoalakan nilai kebenaran hakiki objek materinay, yaitu kebenaran universal yang berlaku bagi semua ilmu pengetahuan yang berbeda dalam jenis, sifat dan dalam bentuk yang bagaimanapun. Lebih dari itu, bagi filsafat, perbedaan objek materi itu hanyalah bersifat aksidental, bukan substansial. Bagaimanapun perbedaan objek materi, tetap dalam satu system yang tak terpisahkan, yaitu tak terpisahkan dalam substansi mutlak  (causa prima). Didalam causa prima inilah kebenaran universal tertinggi yang bersifat demikian, maka meliputi pluralitas kebenaran, dan berfungsi sebagai sumber dari segala sumber kebenaran.

Selanjutnya, pada tingkat teoreti potencial, pluralitas ilmu pengetahuan mulai tampak. Pada tingkat teoretis, boleh jadi pluralitas ilmu pengetahuan masih berada dalam satu kesatuan system. Suatu teori berlaku bagi banyak jenis ilmu pengetahuan serumpun, tetapi tidak berlaku bagi banyak jenis ilmu pengetahuanyang berlainan rumpun. Teori ilmu pengetahuan social, cenderung tidak dapat digunakan dalam rumpun ilmu pengetahuan alam, karena perbedaan watak objek materi. Manusia dan masyarakat, sebagai objek materi ilmu pengetahuan social, berpotensi labil dan cenderung berubah-ubah, sedangkan badan-badan benda sebagai objek materi ilmu pengetahuan alam berpotensi stabil dan cenderung tetap. Karena itu, teori ilmu pengetahuan social cenderung berubah-ubah menurut dinamika eksistensi kehidupan manusia dan masyarakat, dan teori ilmu pengetahuan alam cenderung bersifat tetap.

Kemudian, pada tingkat praktis fungsional, pluralitas ilmu pengetahuan justru mendapatkan legalitas akademik. Karena pada tingkat ini, ilmu pengetahuan dituntut untuk memberikan kontribusi praktis secara langsung terhadap upaya reproduksi demi kelangsungan eksistensi kehidupan manusia \. Pada tingkat ini, kebenaran teoretis potensial disusun dalam suatu system tekhnologis, sehingga membentuk tekhnologi yang siap memproduksi barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan manusia dan masyarakat. Pada tingkat praktis fungsional ini, pluralitas dalam hal perbedaan dan keterpisahan ilmu pengetahuan, tersatukan dalam suatu system tekhnologi, yang semata-mata bertujuan untuk memenuhi kebutuhan demi kelangsungan eksistensi kehidupan.[8]

  1. 4. Aliran-aliran dalam Ontologi
    1. A. Ontologi Yang Bersahaja

Kebanyakan orang setidak-tidaknya mengadakan pembedaan antara barang-barang yang dapat dilihat, diraba, yang tidak bersifat kejasmanian atau yang dipahamkan ‘jiwa’. Kadang kadang orang kebanyakan menjumpai mereka yang berpendirian bahwa sesungguhnya jiwa itu tidak ada, yang ada dalam kenyataannya ialah barang kejasmanian, pendirian yang demikian ini tidak begitu diperhatikan, demi pertimbangan keselamatan diri mereka. Tapi kadang mereka sangat resah akan ajaran-ajaran semacam itu. Mungkin mereka sesekali memaki-maki dengan keras para penganut paham materialisme tersebut.

  1. B. Ontologi Kuantitatif dan Kualitatif

Ontologi dapat mendekati masalah hakekat kenyataan dari dua macam sudut pandang. Orang dapat mempertanyakan, “kenyataan itu tunggal atau jamak?” yang demikian ini merupakan pendekatan kuantitatif. Atau orang dapat juga mengajukan pertanyaan, “dalam babak terakhir, apakah yang merupakan kenyataan itu?’ yang demikian ini merupakan pendekatan secara kualitatif. Dalam hubungan tertentu, segenap masalah dibidang ontology dapat dikembalikan kepada sejumlah pertanyaan yang bersifat umum, seperti “bagaimanakah cara kita hendak membicarakan kenyataan”.[9]

  1. C. Ontologi Monistik

Lama berselang diyunani kuno, Parmenides mengatakan, kenyataan itu tunggal adanya, dan segenap keanekaragaman, perbedaan serta perubahan, bersifat semu belaka. Dewasa ini system monistik seperti itu tidak umum dianut orang. Karena, justru perbedaanlah yang merupakan katagori dasar segenap kenyataan yang ada yang tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Tetapi, ada juga orang-orang yang berpendirian bahwa pada dasarnya segala sesuatu sama hakekatnya. Pendirian yang demikian ini dianut oleh para pendukung paham monisme dewasa ini.yaitu kaum idealism dan kaum materialisme. Sesungguhnya, yang tersngkut dalam hal ini ilah masalah terdapat atau tidaknya macam-macam kenyataan yang berbedah-bedah. Sudah tentu jika kita mengatakan segala sesuatu merupakan kenyataan, maka sampai sejauh itu memang segala sesuatu sama. Perbedaan yang pokok diantara par penganut monisme dengan para pengenut non monisme ialah dalam sikap mereka masing-masing yang menerima atau menolak pernyataan.[10]

3. Ontologi Penyelesaian Masalah

A. Naturalisme

kejadian sebagai katagori pokok.William R. Dennis seorang pengenut paham naturalisme dewasa ini mengatakan, naturelisme modern-ketika berpendirian bahwa apa yang di namakan kenyataan pasti bersifat kealaman-beranggapan bahwa katagori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan ialah kejadian. Kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satuan-satuan penyusun kenyataan yang ada, dan senantiasa dapat dialami oleh manusia biasa. Hanya satuan-satuan semacam itulah yang merupakan satu-satunya penyusun dasar bagi segenap hal yang ada.

Yang nyata pasti bereksistensi.Ada dua macam kesimpulan yang segera dapat ditarik dari pendirian di atas . pertama, sesuatu yang dianggap terdapat diluar ruang dan waktu tidak mungkin merupakan kenyataan. Kedua apa pun yang di anggap tidak mungkin untuk ditangani dengan menggunakan metode-metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam, tidak mungkin merupakan kenyataan. Ini bukan hanya berarti bahwa yang bereksistensi bukan merupakan himpunan bawahan dari kenyataan melainkan bahwa kedua himpunna tersebut persis sama artinya.[11]

B. Materialisme

Yang terdalam ialah materi.seorang naturalisme mendasarkan ajarannya pada pengertian “alam”, berusaha melampaui pengertian “alam” dan mendasar diri pada macam substansi atau kenyataan terdalam yang dinamakan “materi”. Sebelum berkembangnya fisika modern dengan hasil panyelidikannnya yang menunjukkan bahwa substansi reniks yang keras, bulat serta tidak tertimbus yaitu atom ternyata masih dapat dipecahkan lebih lanjut, maka substansi semacam itulah yang dipandang sebagai materi. Kaum materalisme pada masa lampau memandang alam semesta tersusun dari zat-zat renik yang terdalam tersebut dan memandang alam semesta dapat diterangkan berdasarkan hukum-hukum dinamika. Berangakta dari pemahaman itu kaum materialis dewasa ini mengenal rumus yang paling mengejutkan di dalam fisika yaitu E=MC2, yang menggambarkan bahwa tenaga E kedudukannya dapat saling dipertukarkan dengan massa M. [12]

C. Edealisme

Definisi Edialisme.Para pengatutu faham naturialisme dan materialisme mengatakan bahwa istilah-istilah yang mereka sarankan (meteri, alam, dsb). Sudah cukup untuk memberikan keterangan mengenai segenap kenyataan. Namun  kiranya ada banyak orang benar-benar dapat merasakan bahwa ada hal-hal serat gejala-gejala yang tidak dapat semata-mata diterangkan berdasarkan penegertian alam lebih-lebih sekedar berdasarkan pengertian materi. Kiranya ada hal-hal seperti pengelaman nilai, makna dan sebagainya yang tidak akan mengandung makna, kecuali jika ada usaha untuk memperkenalkan istilah-istilah yang lain, atau merupakan tambahan terhadap istilaih-istilah yang bersifat naturalistik.

Alam sebagai sesuatu bersifat rohani.Secara umum dapat dikatakan ada dua macam kaum idealis; kaum spiritualis dan kaum dualis. Para pengatut paham spiritualisme (jangan di campur adukkan dengan ilmu pengetahuan semu yang disebut spiritisme) berpendirian bahwa segenap tatanan alam dapat di kembalikan kepada atau berasal dari sekumpulan roh yang beraneka ragam dan berbeda-beda derajatnya.

Memang mereka memandang alam sebagai keseluruhan yang bertingkat-tingkat dan diri kita masing-masing sebagai pusat-pusat rohani yang berkesinambungan dengan tingkat-tingkat yang lain. Sebab, kita sendiri merupakan pusat-pusat dan berkesinambungan dengan tingkat-tingkat yang lain dan dapat disimpulkan bahwa bahwa tingkat-tingkat yang lain pun tentu merupakan pusat rohani pula. Apa yang kita namakan dunia material juga merupakan dunia dengan pusat-pusat rohani yang mempengaruhi alat-alat indrawi kita.[13]

  1. D. Dualisme

Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik.

Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berasal setidaknya sejak zaman Plato dan Aristoteles dan berhubungan dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan kecerdasan dan kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa “kecerdasan” seseorang (bagian dari pikiran atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi atau dijelaskan dengan fisik.

Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh René Descartes (1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang. Dualisme bertentangan dengan berbagai jenis monisme, termasuk fisikalisme dan fenomenalisme. Substansi dualisme bertentangan dengan semua jenis materialisme, tetapi dualisme properti dapat dianggap sejenis materilasme emergent sehingga akan hanya bertentangan dengan materialisme non-emergent.[14]

  1. E. Agnostisisme

Agnotisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang-Mutlak”; atau , dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi.

Dalam kedua hal ini maka agnostikisme mengandung unsur skeptisisme. Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (tahu) dan a (tidak). Arti harfiahnya “seseorang yang tidak mengetahui”.Agnostisisme tidak sinonim dengan ateisme.[15]

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas tentang Ontologi maka dapat di simpulkan ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu.

Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi juga dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.

Di samping itu ada juga aspek-aspek permasalahan ontologi yang sangat nyata pada kejadian sebagai katagori pokok, menurut William R. Dennis seorang pengenut paham naturalisme dewasa bahwa katagori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan ialah kejadian.

DAFTAR PUSTAKA

http://amrull4h99.wordpress.com/2009/10/01/ontologi-metafisika-asumsi-dan-peluang/

http://alicia-komputer.blog.friendster.com/2008/10/filsafat-ilmu-dan-logika

http://umum.kompasiana.com/2010/01/24/ontologi/

Suhartono Suparlan, 2005. Filsafat Ilmu pengetahuan. Jogjakarta :AR-RUZZ MEDIA 194

Kattasoff .O Louis,2004. Pengantar filsafat, Yogyakarta :Tiara Wacana

http://id.wikipedia.org/wiki/Pluralisme.com

http://id.wikipedia.org/wiki/ Agnostisisme.com


[4] Louis o. Kattsoff, pengantar FILSAFAT, 2004. Hal: 185-186

[5] Suparlan Suhartono,2005,filsafat ilmu pengetahuan,AR-RUZZ MEDIA 194,Jogjakarta,hal:111

[6] IBID,hal:112-114

[7] IBID,Hal:115

[8] IBID,Hal:115-117

[9] Louis o. Kattasoff,2004,pengantar filsafat,Tiara Wacana,Yogyakarta,Hal:186

[10] IBID,Hal:187

[11] IBID,Hal:208

[12] IBID,Hal:212

[13] IBID<Hal:216

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: