iman dan kufur

BAB I

PENDAHULUAN

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah atas limpahan Rahmat, Taufiq, serta Hidayah-Nya sehingga laporan dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah banyak memberikan inspirasi kepada penulis sehingga terselesaikanlah tugas akhir ini yang berjudul perbandingan antara aliran dalam teologi Islam, walaupun masih banyak kekurangan, sebagaimana kata pepatah “tiada gading yang tak retak”, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh penyusun.

Rumusan masalah

  1. Bagaimana pandangan Mu’tazilah tentang dosa besar, iman dan kufur?
  2. Menurut aliran Murji’ah dan Asy’ariyah tetang dosa besar, iman dan kufur?

Tujuan

Agar kita bisa memahami dan perbedaan tentang dosa besar, iman dan kufur dari masing-masing aliran dalam teoligi Islam

BAB II

PEMBAHASAN

1. Perbandingan pelaku dosa besar

1. Dosa Besar. Yaitu dosa yang disertai ancaman hukuman di dunia, atau ancaman hukuman di akhirat. Abu Tholib Al-Makki berkata: Dosa besar itu ada 17 macam.

4 macam di hati, yaitu: 1. Syirik. 2. Terus menerus berbuat maksiat. 3. Putus asa. 4. Merasa aman dari siksa Allah.

4 macam pada lisan, yaitu: 1. Kesaksian palsu. 2. Menuduh berbuat zina pada wanita baik-baik. 3. Sumpah palsu. 4. mengamalkan sihir.

3 macam di perut. 1. Minum Khamer. 2. memakan harta anak yatim. 3. memakan riba.

2 macam di kemaluan. 1. zina. 2. Homo seksual.

2 macam di tangan. 1. membunuh. 2. mencuri.

1 di kaki, yaitu lari dalam peperangan

1 di seluruh badan, yaitu durhaka terhadap orang tua.

2. Dosa kecil. Yaitu dosa-dosa yang tidak tersebut diatas.

3. Dosa kecil yang menjadi besar[1]

A. Khowarij

Ciri yang menonjol dari aliran Khowarij adalah watak eksrtimitas dalam memutuskan persoalan-persoalan kalam. Hal ini disamping di dukung oleh watak kerasnya akibat kondis giografis gurun pasir, juga dibangun atas dasar pemahaman tekstual atas nas-nas Al-Qur’an dan Hadist. Tak heran kalau aliran ini memiliki pandangan ekstrim pula tentang status pelaku dosa besar. Mereka memandang bahwa orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim, yaitu Ali, Mu’awiyah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari adalah kafir, berdasarkan firman Allah pada surat Al-Maidah ayat 44. Yang artinya: “barang siapa yang tidak memtuskan menurut apa yang dituturkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

Semua pelaku dosa besar (murtabb al-kabirah), menurut semua subsekte Khowarij, kecuali Najdah, adalah kafir dan akan disiksa di neraka selamanya. Subsekte Khowarij yang sangat ekstrim, Azariqah, menggunakan istilah yang lebih “mengerikan” dari kafir, yaitu musyrik. Mereka memandang musyrik bagi siapa saja yang tidak mau bergabung dengan barisan mereka. Adapun pelaku dosa besar dalam pandangan mereka tlah beralih status keimanannya menjadi kafir millah (agama), dan itu berarti ia telah keluar dari Islam. Mereka kekal di neraka bersama orang-orang kafir lainnya.

Subsekte Najdah tak jauh berbeda dari Azariqah. Mereka menganggap musyrik kepada siapa pun yang secara berkesinambungan mengerjakan dosa kecil. Akan halnya dengan dosa besar, bila tidak dilakukan secara kontinu, pelakunya tidak di pandang musyrik, tetapi hanya kafir. Namun, jika dilaksanakan terus, ia menjadi musyrik.

Walaupun secara umum subsekte aliran Khowarij sependapat bahwa pelaku dosa besar dianggap kafir, masing-masing berbeda pendapat tentang pelaku dosa besar yang diberi prediket kafir. Menurut subsekte Al-Muhakimat, Ali, Muawiyah, dan kedua pengantarnya (Amr bin Al-Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari) dan semua orang yang menyetujui arbitrase adalah bersalah dan menjadi kafir. Hukum ini pun mereka luaskan artinya sehingga termasuk orang yang berbuat dosa besar. Berbuat zina, membunuh sesama manusia tanpa sebab, dan dosa-dosa besar lainya menyebabkan pelakunya telah keluar dari Islam.

Lain halnya dengan pandangan subsekte Azariqah. Mereka menganggap kafir kepada orang-orang yang telah melakukan perbuatan hina, seperti membunuh, berzina, dan sebagainya, tetapi juga terhadap semua orang Islam yang tak sefaham dengan mereka. Bahkan, orang Islam sefaham dengan mereka, tetapi tidak mau hijrah ke dalam lingkungan mereka juga di pandang kafir, bahkan musyrik. Dengan kata lain, orang Azariqah sendiri yang tinggal di luar lingkungan mereka dan tidak mau pindah ke daerah kekuasaan mereka dipandang musyrik.

Pandangan yang berbeda dikemukakan subsekte An-Najdat. Mereka berpandapat bahwa orang berdosa besar menjadi kafir dan kekal di dalam neraka hanyalah orang Islam yang tidak sefaham dengan golongannya. Adapun pengikutnya, jika mengerjakan dosa besar tetap mendapatkan siksa di neraka, tetapi pada akhirnya akan masuk surga juga. Sementara itu, subsekte As-Sufriah membagi dosa besar dalam dua bagian, yaitu ada sanksinya di dunia, seperti membunuh dan berzina, dan dosa yang tak ada sanksinya di dunia, seperti meninggalkan sholat dan puasa. Orang yang berbuat dosa katagori pertama tidak dipandang kafir, sedangkan orang yang melaksanakan dosa katagori kedua dipandang kafir.

B. Aliran Murji’ah

Pandangan aliran Murji’ah tentang status pelaku dosa besar dapat ditelusuri dari definisi iman yang dirumuskan oleh mereka. Tiap-tiap sekte Murji’ah berbeda pendapat dalam merumuskan iman itu sehingga pandangan tiap-tiap subsekte tentang status pelaku dosa besar pun berbeda-beda pula.

Secara garis besar, sebagaimana telah dijelaskan, subsekte Khowarij dapat dikatagorikan dalam dua katagor: ekstrim dan moderat. Untuk memilih mana subsekte yang ekstrim atau moderat, Harun Nasution berpendapat bahwa subsekte Murji’ah yang ekstrim adalah mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak dalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya merupakan refleksi dari apa yang ada didalam kalbu. Oleh kerena itu, segala ucapan dan perbuatan seorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti telah menggeser atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna di mata Tuhan.

Diantara kalangan Murji’ah yang berpendapat serupa diatas adalah subsekte Al-Jamiyah, As-Salihiyah, dan Al-Yunisiah. Mereka berpendapat bahwa iman adalah tashdiq secara kalbu saja atau dengan kata lain, ma’rifah (mengetahui) Allah dengan kalbu: bukan secara demonstratif, baik dalam ucapan maupun tindakan. Oleh kerena itu, jika seseorang telah beriman dalam hatinya, ia dipandang tetap sebagai seorang mukmin sekalipun menampakkan tingkah laku seperti Yahudi atau Nasroni. Menurut mereka, iqrar dan amal bukanlah bagian dari iman. Kredo kelompok Murji’ah ekstrim yang terkenal adalah perbuatan maksiat tidak dapat menggugurkan keimanan sebagaimana ketaatan tidak dapat menambah kekufuran. Dapat disimpulkan bahwa Murji’ah ekstrim memandang pelaku dosa besar tidak akan disiksa di neraka.

Adapun Murji’ah moderat ialah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal di dalamnya, bergantung pada ukuran yang dosa yang dilakukan. Masih terbuka kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya sehingga ia bebas dari siksa neraka. Di antara subsekte Murji’ah yang masuk dalam katagori ini adalah Abu Hanifah dan pengikutnya. Pertimbangannya, pendapat Abu Hanifah tentang pelaku dosa besar dan konsep iman tidak jauh berbeda dengan kelompok Murji’ah moderat lainnya. Ia berpendapat bahwa pelaku dosa besar masih tetap mukmin, tetapi dosa besar yang diperbuatnya bukan berarti tidak berimplikasi. Seandainya masuk neraka, kereka Allah menghendakinya, ia tak akan kekal di dalamnya.

C. Aliran Mu’tazilah

Kemunculan aliran Mu’tazilah dalam pemikiran teologi Islam diawali oleh masalah yang hampir sama dengan kedua aliran yang telah dijelaskan di atas, yaitu mengenai status pelaku dosa besar; apakah masih beriman atau telah menjadi kafir. Perbedaanya, bila Khowarij mengkafirkan pelaku dosa besar dan Mu’tazilah memelihara keimanan pelaku dosa besar, Mu’tazilah tidak menentukan status predikat yang pasti bagi pelaku dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau kafir, kecuali dengan sebutan yang sangat terkenal, yaitu al-manzilah bain al-manzilatain. Setiap pelaku dosa besar, menurut Mu’tazilah, berada di posisi tengah di antara posisi mukmin dan posisi kafir. Jika pelakunya meninggal dunia dan belum sempat bertobat, ia akan dimasukkan ke dalam neraka selama-lamanya. Walaupun demikian, siksaan yang diterimanya lebih ringan daripada siksaan orang kafir. Dalam perkembanganya, tokoh Mu’tazilah seperti Wasil bin Atha dan Amr bin Ubaid memperjelas sebutan itu dengan istilah fasik yang bukan mukmin atau kafir.

Mengenai perbutan apa saja yang dikatagorikan sebagai doas besar, aliran Mu’tazilah merumuskan secara lebih konseptual ketimbang aliran Khawarij. Yang dimaksud dengan dosa besar menurut pandangan Mu’tazilah adalah segala perbuatan yang ancamannya disebutkan secara tegas dalam nas, sedangkan dosa kecil adalah sebaliknya, yaitu segala ketidakpatuhan yang ancamannya tegas dalam nas. Tampaknya Mu’tazilah menjadikan ancaman sebagai kriteria dasar bagi dosa besar maupun kecil.

D. Aliran Asy’ariyah

Terhadap pelaku dosa besar, agaknya Al-Asy’ari, sebagai wakil Ahlu As-Sunnah, tidak mengkafirkan orang-orang yang sujud ke Baitullah (ahl Al-Qiblah) walaupun melakukan dosa besar, seperti zina dan mencuri. Menurutnya, meraka masih tetap sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi, jika dosa bosa besar itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini dibolehkan (halal) dan tidak menyakini keharaman, ia dipandang telah kafir.

Adapun balsannya di akhirat bagi pelaku dosa besar apabila ia dan sempat bertobat, maka menurut Al-Asy’ari, hal itu berhantung pada kebijakan Tuhan Yang Maha Berkehendak Mutlak, Tuhan dapat saja mengampuni dosanya atau pelaku dosa besar itu mendapat syafaat Nabi SAW, sehingga terbebas dari siksaan neraka atau kebalikannyam yaitu Tuhan memberinya siksaan neraka sesuai dengan ukuran dosa yang dilakukannya. Meskipun begitu, ia tidak akan kekal di neraka seperti orang-orang kafir lainnya. Setelah penyiksaan terhadap dirinya selsai, ia akan di masukkan ke dalam surge. Dari paparan singkat ini, jelaslah bahwa Asy’ariyah sesungguhnya mengambil posisi yang sama dengan Murji’ah, khususny dalam pernyataan yang tidak mengkafirkan para pelaku dosa besar.

E. Aliran Maturidiyah

Aliran Maturidiyah, baik Samarkand maupun Bukhara, sepakat menyatakan bahwa pelaku dosa besar masih tetap mukmin kerena adanya keimanan dalam dirinya. Adapun balasan yang diperolehnya kelaj di akhirat bergantung pada apa yang yang dilakukannya di dunia. Jika ia meningal tanpa bertobat terlebih dahulu, keputusannya diserakan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Jika menghendaki pelaku dosa besar itu dianpuni, ia akan memasukkannya ke neraka, tetapi jika tidak kekal di dalam neraka, tetapi tidak kekal di dalamnya.

Berkaitan dengan persoalan ini, Al-Matiridiyah, sendiri peletak dasar aliran kalamAl-Maturidiyah, berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidak kafir dan tidak kelal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Hai ini kerena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan bagi orang yang berbuat dosa syirik. Kerena itu, perbutan dosa besar (selain syirik) tidaklah menjadikan seseoran kafir atau murtad. Menurut Al-Maturidiyah, iman itu cukup dengan tashdiq dan iqrar, sedangkan amal adalah penyempurna iman. Oleh kerena itu, amal tidak akan bertambah atau mengurangi esensi iman, kecuali hanya menambah atau mengurangi sifatnya saja.

F. Aliran Syi’ah Zaidiyah

Penganut Syi’ah Zaidiyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka, jika dia belum bertobat dengan tobat yang sesungguhnya. Dalam hal ini Syi’ah zaidiyah memang dekat dengan Mu’tazilah. Ini bukan sesuatu yang aneh mengingat Wasil bin Atha, salah satu seorng pemimpin Mu’tazilah, mempunyai hubungan dengan Zaid. Moojan Momen bukan mengatakan bahwa Zaid pernah belajar kepada Wasil bin Atha.[2]

2. Perbandingan iman dan kufur

kufur/kafir adalah orang yang tidak percaya/tidak beriman kepada Allah baik orang tersebut bertuhan selain Allah maupun tidak bertuhan, seperti paham komunis (ateis). Kufur ialah mengingkari Tauhid, Kenabian, Ma’ad, atau ragu terhadap kejadiannya, atau mengingkari pesan dan hukum para nabi yang sudah diketahui kedatangannya dari sisi Allah SWT. Ciri dari kekufuran adalah mengingkari secara terang-terangan terhadap suatu hukum Allah SWT yang mereka tahu tentang kebenarannya dan mereka memiliki tekad untuk memerangi agama yang hak. Dari sinilah syirik (mengingkari tauhid) termasuk salah satu ciri konkret dari kekufuran. Oleh karena itu orang-orang kufur/kafir sangatlah dimurkai oleh Allah SWT karena mereka tidak melaksanakan ketentuan- ketentuan yang telah digariskan oleh Allah. Adapun kufur/kafir sangatlah erat kaitannya atau hubungannya dengan keadaan-keadaan yang menyesatkan seperti syirik, nifak, murtad, tidak mau bersyukur kepada Allah SWT, dan lain sebagainya. [3]

A. aliran khowarij

Sebagai keolompok yang lahir dari peristiwa politik, pendirian teologi Khowarij terutama yang berkaitan dengan masalah iman dan kufur lebih bertendensi politis ketimbang ilmiah-teoretis. Kebenaran pernyataan ini tak dapat di sangkal karena, seperti yang telah diungkapkan oleh sejarah, Khowarij mula-mula memuncul persoalan teologis seputar masalah, “apakah Ali dan pendukungnya adalah kafir atau tetap mukmin?” “apakah Mu’awiyah dan pendukungnya adalah kafir atau tetap mukmin?” jawaban atas pertayaan itu kemudian menjadi pijakan atas dasar dari teologi mereka. Menurut mereka, karena Ali dan Mu’awiyah beserta para pendukungnya telah melakukan tahkim kepada manusia, berarti mereka telah berbuat dosa besar. Dan semua pelaku dosa besar (mutabb al kabirah), menurut semua subsekte Khowarij, kecuali Najdah, adalah kafir dan disksa di neraka selamanya. Subsekte Khowarij yang sangat ekstrim, Azariqoh, menggunakan istilah yang lebih “mengerikan” dari pada kafir yaitu musyrik. Mereka memandang musyrik bagi siapa saja yang tidak mau bergabung ke dalam barisan mereka, sedangkan pelaku dosa besar dalam pandangan mereka telah beralih status keimanannya menjadi kafir millah (agama), dan itu berarti telah keluar dari Islam. Si kafir semacam ini akan kekal di neraka bersama orang-orang kafir lainnya.

Subsekte Najdah tak jauh berbeda dari Azariqah. Kelau Azariqah memberikan prediket musyrik kepada umat Islam yang tidak mau bergabung dengan kelompok mereka, Najdah pun memberikan prediket yang sama kepada siapapun dari umat Islam yang secara berkesinambungan mengerjakan dosa kecil. Akan halnya dosa besar, bila tidak dilakukan secara kontinu, pelakunya tidak pandang musyrik, tetapi kafir. Namun, jika pelakunya melaksanakan terus menerus, ia akan menjadi musyrik.

Iman dalam pandangan Khowarij, tidak semata-mata percaya kapada Allah. Mengerjakan segala perintah kewajiban agama juga merupakan bagian dari keimanan. Segala perbuatan yang berbau religius, temasuk di dalamnya masalah kekuasaan adalah bagaian dari keimanan ( الأمل جزع من الإيمن). Dengan demikian, siapa pun yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah Rosul-Nya, tetapi tidak melaksanakan kewajiban agama dan mala melakukan perbuatan dosa, ia dipandang kafir oleh Khowarij.

Lain halnya dengan subsekte Khowarij yang sangat moderat, yaitu ibadiyah. Subsekte ini memiliki pandangan bahwa setiap pelaku dosa besar tetap sebagai muwahhid (yang mengesakan Tuhan), tetapi bukan mukmin. Pendeknya, ia tetap disebut kafir tetapi hanya merupakan kafir nikmat dan bukan kafir milla (agama). Siksaan yang bakal mereka terima di akhirat nanti adalah kekal di dalam neraka bersama orang-orang kafir lainnya.

B. aliran Murji’ah

Berdasarkan pandangan mereka tentang iman, Abu Al-Hasan Al-Asy’ari mengklasifikasikan aliran teologi Murji’ah menjadi 12 subsekte, yaitu Al-jahmiyah, Ash-Salihiyah, Al-Yunisiyah, Asy-Syimriyah, As-Saubaniyah, An-Najjariyah, Al-Kailaniyah bin Syabib dan pengikutnya, Abu Hanifa dan pengikutnya, At-Tumaniyah, Al-Marisiyah, dan Al-Karramiyah. Sementara itu, Harun Nasution dan Abu Zahrah membedakan Murji’ah menjadi dua kelompok utama, yaitu Murji’ah moderat (Murji’ah Sunnah) dan Murji’ah esktrim (Murji’ah Bid’ah).

Untuk memilih mana subsekte yang ekstrim atau moderat, Harun Nasution menyebutkan bahwa subsekte Murji’ah yang ekstrim adalah mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak di dalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya menggambarkan apa yang ada dalam kalbu. Oleh kerena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna dalam pendangan Tuhan.

Di antara kalangan Murji’ah yang berpendapat senada adalah subsekte Al-Jahmiyah, As-Salihiyah, dan Al-Yunusiyah, mereka berpendapat bahwa iman adalah tashdiq secara kalbu saja, atau ma’rifah (mengetahui) Allah dengan kalbu, bukan secara demonstratif, naik dalam ucapan maupun tindakan. Oleh kerena itu, jika seseorang telah beriman dalam hatinya, ia tetap dipandang sebagai seorang mukmin sekalipun menampakkan tingkah laku seperti Yahudi atau Nasroni. Hal ini di sebabkan oleh keyakinan Murji’ah bahwa iqrar dan amal bukanlah bagian dari iman. Kredo kelompok Murji’ah ekstrim yang terkenal adalah “perbuatan tidak dapat menggugurkan keimanan, sebagaimana ketaatan pun tidak dapat membawa kekufuran”. Dapat disimpulkan bahwa kelompok ini memandang bahwa pelaku dosa besar tidak akan disiksa di neraka.

Sementara yang dimaksud Murji’ah moderat ialah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal di dalamnya, bergantung pada dosa yang dilakukannya. Kendatipun demikian, masih terbuka kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya sehingga bebas dari siksa neraka. Ciri khas mereka lainnya adalah  dimasukkannya iqrar sebagai bagian penting dari iman, disamping tashdiq (ma’rifat).

Di antara subsekte Murji’ah yang dimasukkan Harun Nasution dan Ahmad Amin dalam ketagori ini adalah Abu Hanifah dan pengikutnya. Pertimbangannya, pendapat Abu Hanifah tentang pelaku dosa besar dan konsep iman tidak ajuh berbeda dengan kelompok Murj’ah moderat lainnya. Ia berpendapat bahwa seorang pelaku dosa besar masih tetap mukmin, tetapi bukan bararti bahwa dosa yang diperbuatnya tidak berimplikasi. Andaikata masuk neraka, karena Allah menhendakinya, ia tidak akan kekal didalamnya. Di samping itu, iman menurut A bu Hanifah adalah iqrar dan tashdiq. Di tambahkannya pula bahwa iman tidak bertambah dan tidak berkurang. Agaknya hal ini merupakan sikap umum yang ditunjukkan oleh Murj’ah, baik ekstrim maupun moderat seperti Al-Jahmiyah, As-Salihiyah, Asy-Symriyah, dan Al-Gailaniyah. Selanjutnya, Abu Hanifah berpendapat bahwa seluruh umat Islam adalah sama kedudukannya dalam tauhid dan keimanan. Mereka hanya berbeda dari degi intensitas amal perbutannya.

Satu hal yang perlu dicatat adalah seluruh subsekte Murj’ah yang disebutkan oleh Asy’ari, secuali As-Saubaniyah, At-Tuminiyah dan Al-Karramiyah, memasukakn unsur ma’rifah (pengetahuan) dalam konsep iman mereka. Pertanyaannya, apa yang mereka maksudkan dengan ma’rifah? Mereka beranggapan bahwa yang dimaksud dengan ma’tifah adalah cinta kepada Tuhan dan tunduk kepada-Nya (المحبه والخد  ).

C. Aliran Mu’tazilah

Kemunculan aliran Mu’tazilah dalam pemikiran teologi Islam diawali oleh masalah  yang hampir sama dengan kedua aliran yang telah dijelaskan di atas, yaitu mengenai status pelaku dosa besar; Apakah masih beriman atau telah menjadi kafir. Bila Khowarij mengkafirkan pelaku dosa besar dan Murji’ah memelihara keimanan pelaku dosa besar, Mu’tazilah tidak menentukan status dan predikat yang pasti bagi pelaku dosa besar, apakah tetap mikmin atau telah kafir, kecuali dengan sebutan yang sangat terkelanالمنزله بين المنزلتين. Setiap pelaku dosa besar, menurut Mu’tazilah menempati posisi tengah di antara posisi mikmin dan posisi kafir. Jika meningal dunia sebelum bertobat, ia akan dimasukkan ke dalam neraka selama-lamannya. Namun, siksaan yang bakal diterimanya lebih ringan dari pada siksaan orang kafir. Dalam perkembangannya kemudian, beberapa tokoh Mu’tazilah seperti Wasil bin Atha dan Amr bin Ubaid memperjelas sebutan itu dengan istilah fasik yang bukan mukmin atau kafir, malainkan sebagai katagori netral dan independent. Seluruh pemikir Mu’tazilah sepakat bahwa amal perbuatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam kosep iman, bahkan hampir mengidentikannya dengan iman. Ini mudah di mengerti kerena konsep mereka tentang amal sebagai bagian penting keimanan memiliki keterkaitan langsung dengan masalah الوعْد والوعِد (janji dan ancaman) yang merupakan salah satu dari “pancasila” Mu’tazilah.

Aspek penting lainnya dalam konsep Mu’tazilah tentang iman adalah apa yang mereka identifikasikan sebagai ma’rifah (pengetahuan dan akal). Ma’rifah menjadi unsur yang tak kalah penting dari iman kerena pandangan Mu’tazilah yang bercorak rasional. Ma’rifah sebagai unsur pokok yang rasional dari iman berimplikasi pada setiap penolakan keimanan berdasarkan otoritas orang lain (al-iman bi at-taqlid). Di sini terlihat bahwa Mu’tazilah sengat menekankan pentingnya pemikiran logis atau penggunaan akal bagi keimanan. Harun Nasution menjelaskan bahwa menurut Mu’tazilah, segala kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian, menurut mereka, iman seseorang dapat dikatakan benar apabila didasarkan pada akal bukan kerena taqlid kepada orang lain.

Pandangan Mu’tazilah seperti ini, menurut Toshihiko Izutsu, pakar teologi Islam asal Jepang, sangat sarat dengan konsekuensi dan implikasi yang cukup fatal. Hal ini kerena hanya para mutakallim (teolog) saja yang benar-benar dapat menjadi orang yang beriman (mukmin).

Mengenai perbuatan apa saja yang dikatagorikan sebagai dosa besar, aliran Mu’tazilah agaknya merumuskan secara lebih konseptual ketimbang aliran Khowarij. Yang dimaksud dosa besar, menurut mereka adalah segala perbutan yang ancamannya disebutkan secara tegas dalam nas, sedangkan dosa kecil adalah sebaiknya, yaitu segala ketidakpatuhan yang ancamannya tidak disebutkan secara tegas dalam nas. Tampaknya kelompok ini menjadikan ancaman sebagai kriteria dasar bagi dosa besar maupun kecil.

Masalah fluktuasi iman, yang merupakan persoalan teologi yang diwariskan aliran Murji’ah, disinggung pula oleh Mu’tazilah. Aliran ini berpandapat bahwa manakala seseorang meningkatkan dan melaksanakan amal kebaikannya, imannnya semakin bertambah. Setiap kali ia berbuat maksiat, imannya semakin berkurang. Kenyataan ini dapat dipahami mengingat Mu’tazilah, seperti halnya Khowarij, memasukkan unsur amal sebagai unsur penting dari iman ((الأمل جزع من الإيمن.

D. Aliran Asy’ariyah

Agak pelik untuk memahami makna iman yang diberikan oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari sebab, di dalam karya-karyanya seperti Maqolat, Al-ibanah, dan Al-luma, ia mendefinisikan iman secara berbeda-beda. Dalam maqolat dan Al-ibanah disebutkan bahwa, iman adalah qawl dan amal dan dapat bertambah serta berkurang. Dalam Al-luma, iman diartikan sebagai tashdiq bi Allah. Argumentasinya, bahwa kata mukmin seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 7 (لقد كان في يوسف وإخوته ءايت للسا ئلين) memiliki hubungan makna dengan kata sadiqin dalam ayat itu juga. Dengan demikian, menurut Al-Asy’ari, iman adalah  تشدق ب القبل(membenarkan dengan hati).

Di antara definisi iman yang diinginkan Al-Asy’ari dijelaskan oleh Asy-Syahrastani, salah seorang teolog Asya’irah. Asy-Syahristani menulis :

“Al-Asy’ari berkata, “………. Iman (secara esensial) adalah    (تشدق ب القب) (membenarkan dengan kalbu). Sedangkan ‘mengatakan’ (qawl) dengan lisan dan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bi al-arkan) hanyalah merupakan furu (cabang-cabang) iman. Oleh sebab itu, siapa pun yang membenarkan keesaan Tuhan dengan kalbunya dan juga membenarkan utusan-utusan-Nya beserta apa yang mereka bawah darinya, iman orang semacam itu merupakan iman yang sahih….. Dan keimanan seorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut.

Keterangan As-Syahrastani di atas, di samping mengonvergensikan kedua devinisi yang berbeda yang diberikan Al-Asy’ari dalam Maqolat, Al-Ibanah, dan Al-Luma kepada satu titik pertemuan, juga menempatkan ketiga unsur iman itu (tashdiq, qawl, dan amal) pada posisi masing-masing. Jadi, bagi Al-Asya’ri dan juga Asy’ariyah, persyaratan menimal untuk adanya iman hanyalah tashdiq, yang jika diekspresikan secara verbal berbentuk syahdatain.

E. Aliran Maturidiyah

Dalam masalha iman, aliran Marturidiyah Samarkand berpandapat bahwa iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semat-mata iqrar bi al-lisan. Pengertian ini dikemukakan oleh Al-Maturidi sebagai bantahan terhadap Al-Karimiyah, salah satu subsekte Murji’ah. Ia beragumentasi dengan ayat Al-Qur’an surat Al-Hujurat  ayat 14:قالت الأعوراب ءامنا قل لم تؤمنوا ولكن قولوا أسمنا ولما يدخل الإيمن فى قلبكم وإن تطيعوا الله ورسوله لايلتكم من أعملكم شيئا أن الله غفور رحيم

Ayat tersebut dipahami Al-Maturidi sebagai suatu penegasan bahwa keimanan itu tidak cukup hanya dengan perkataan semata, tanpa diimani pula oleh kalbu. Apa yang di ucapkan oleh lidah dalam bentuk pernyataan iman, menjadi batal bila hati tidak mengakui ucapan lidah. Al-Maturidi tidak berhenti sampai disitu. Menurutnya, tashdiq, seperti yang dipahami di atas harus diperoleh dari ma’rifah. Tashdiq hasil dari ma’rifah ini di dapatkan melalui penalaran akal, bukan sekedar berdasarkan wahyu. Lebih lanjutnya, Al-Maturidi mendasari pandangan pada dalil naqli surat Al-Baqarah ayat 260:وإذ قال إبرهم برأرني كيف تحي الموتى قال أومل تؤمن قال بلى ولكن ليطئن قلبى قال فخذ أربعة من الطير فصر هن إليك ثم اجعل على كل جبل منهن جُزْْءًََاثم ادعهن يأتينك سعيا واعلم أن الله عزيزحكيم. Pada surat Al-Baqarah tersebut di jelaskan bahwa Nabi Ibrahim memintah kepada Tuhan untuk memperlihatkan bukti dengan menghidupkan orang yang sudah mati. Permintaan Nabi Ibrahim tersebut, lanjut Al-Maturidi, tidaklah berarti bahwa Nabi Ibrahim belum beriman. Akan tetapi, Nabi Ibrahim mengharapkan agar iman yang telah dimilikinya dapat meningkatkan menjadi iman ma’rifah. Jadi menurut Al-Maturidi, iman adalah tashdiq yang berdasarkan ma’rifah. Meskipun demikian, ma’rifaha menurutnya sama sekali bukan esensi iman, melainkan faktor penyebab kehadiran iman. Adapun pengetian iman menurut Maturidiyah Bukhara, seperti yang dijelaskan oleh Al-Bazdawi, adalah tashdiq bi al-qalb dan tashdiq bi al-lisan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tashdiq bi al-qalb adalah menyakini dan membenarkan dalam hati tentang keesaan Allah dan rasul-rasul yang diutus-Nya beserta risalah yang dibawanya. Adapun yang dimaksud dengan tashdiq al-lisan adalah mengakui kebenaran seluruh pokok ajaran Islam secara verbal. Pendapat ini tampak tidak banyak berbeda dengan ajaran Asy’ariyah, yaitu sama-sama menempatkan tashdiq sebagai unsur esensial dari keimanan walaupun dengan pengungkapan yang berbeda.

Dari penelaahan karya Al-Maturidi, penulis tidak menemukan pendapatnya yang berkenaan dengan masalah fluktuasi iman. Meskipun demikian, komentarnya terhadap Al-Fiqh Al-Akbar, karya Abu Hanifah tentang fluktuasi iman, dapat dijadikan referensi sebagai pendapatnya sendiri. Al-Maturidi tidak mengakui adanya fluktuasi iman. Meskipun demikian, berbeda dengan Abu Hanifah, Al-Maturidi menerima adanya perbedaan individual dalam iman. Hal ini dibuktikan dengan sikap penerimaanya terhadap hadist Nabi SAW, yang menyatakan bahwa sklala iman Abu Bakar lebih berat dan lebih besar dari pada skala iman seluruh manusia.

Maturidiyah Bukhara mengembangkan pendapat yang berbeda. Al-Bazdawi menyatakan bahwa iman  tidak dapat berkurang, tetapi bisa bertambah dengan adanya ibadah-ibadah yang dilakukan. Al-Bazdawi menegaskan hal tersebut dengan membuat analogi bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan berfungsi sebagai bayangan dari iman. Jika bayangan itu hilang, esensi yang digambarkan oleh bayangan itu berkurang. Sebaliknya, dengan kehadiran bayang-bayang (ibadah) itu, iman justru menjadi bertambah.[4]

BAB III

KESIMPULAN

Perbedaan antara aliran tentang pembahasan dosa besar, iman dan kufur, pada kaum:

  • Khowarij menandang orang yang tidak memtuskan menurut apa yang dituturkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan pandangannya tentang iman kufur tidak semata-mata percaya kapada Allah/ mengerjakan segala perintah kewajiban agama juga merupakan bagian dari keimanan.
  • Murji’ah pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir dan keimanan terletak dalam kalbu.
  • Mu’tazilah, Setiap pelaku dosa besar berada di posisi tengah di antara posisi mukmin dan posisi kafir. Seluruh pemikir Mu’tazilah sepakat bahwa amal perbuatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam kosep iman, bahkan hampir mengidentikannya dengan iman

Asy’ariyah tidak mengkafirkan orang-orang yang sujud ke Baitullah (ahl Al-Qiblah) walaupun melakukan dosa besar, seperti zina dan mencuri. Menurutnya, meraka masih tetap sebagai orang yang beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar. dan“………. Iman (secara esensial) adalah    (تشدق ب القب) (membenarkan dengan kalbu). Sedangkan ‘mengatakan’ (qawl) dengan lisan dan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bi al-arkan) hanyalah merupakan furu (cabang-cabang) iman. Oleh sebab itu, siapa pun yang membenarkan keesaan Tuhan dengan kalbunya dan juga membenarkan utusan-utusan-Nya beserta apa yang mereka bawah darinya, iman orang semacam itu merupakan iman yang sahih….. Dan keimanan seorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http/www.Annur Blog _ Definisi dosa besar.com

http/www.ImanKufur.com

Rozak, Abdul dan Anwar, Rosihon, 2006. Ilmu kalam. Bandung: pustaka setia.


[1] Annur Blog _ Definisi dosa besar.com

[2] DR.Abdul Rozak, M.ag dan DR. Rosihon Anwar, M.ag. Ilmu kalam. Hal: 133-139

[3] http/www.ImanKufur.com

[4] DR.Abdul Rozak, M.ag dan DR. Rosihon Anwar, M.ag. Ilmu kalam. Hal:142-151

2 Komentar

2 thoughts on “iman dan kufur

  1. nheeiya

    thank’s sob.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: