al farabi

PENDAHULUAN

 1. Latar Belakang

 Filsafat Yunani. Filsafat Yunani mempunyai pengaruh yang jauh jaungkauannya dalam pemikiran Muslim, karena Yunani telah menghasilkan kontribusi terpenting bagi filsafat dalam zaman kuno, dan kaum Muslim mencurahkan lebih banyak waktu dan energi untuk menerjemahkan dan mempelajari para penulis Yunani. Tetapi umat Muslim tidak memulainya dengan menjadi para Platonis atau Aristotelian. Filsafat Yunani sampai kepada umat Muslim bukan sebagai ilmu pengetahuan yang dipelajari melainkan sebagai sebuah kekuatan hidup. Ia telah menemukan jalur-jalur baru ke dunia berbahasa Arab. Pada tahap-tahap awal studinya, umat Muslim mengembangkan filsafat tersebut dalam bentuk seperti tatkala mereka menerimanya.

2. Rumusan Masalah

   a. Bagaimana sejarah singkat hidup Al-Farabi?

   b. Apa pokok-pokok pemikirannya?

   c. Bagaiman posisi akal dalam teori sepuluh Al-Farabi?

 3. Tujuan

     a. Mengetahui hidup dan karya Al-Farabi

      b. Menjelaskan hakekat tuhan

     c. Menjelaskan posisi akal dalam teori sepuluh

PEMBAHASAN

1. Hidup dan karyanya

Pemikiran Al-Kindi umumnya bercorak Aristotelian dalam metefisika dan stoic dalam etika, sedangkan pemikiran Al-Razi umumnya bercorak Plantonik dengan sedikit sisipan dari agama Harran dan Mani’. Filosof Islam pertama yang sangat sistematis dalam pembangunan dasar-dasar Neoplatonisme Islam , ia adalah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Sebutan Al-Farabi di ambil dari nama kota Farab, dimana ia dilahirkan pada tahun 257 H. (870 M). ayahnya adalah seorang Iran dan kawin dengan seorang wanita Turkestan. Kemudian ia menjadi perwira tentara Turkistan. Kerena itu, Al-Farabi dikatakan berasal dari keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran.

Sejak kecil, Al-Farabi suka belajar dan ia mempunyai kecakapan luar bisa dalam lapangan bahasa. Bahasa-bahasa yang dikuasainya antara lain ialah bahasa-bahasa Iran, Turkestan dan Kurdestan. Nampaknya ia tidak mengenal bahasa Yunani dan Siriani, yaitu bahasa-bahasa ilmu pengetahuan dan filsafat pada waktu itu.

Setelah besar, Al-Farabi meninggalkan negerinya untuk menuju kota Bagdad, pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan pada masanya, untuk belajar antara lain pada Abu Bisyr bin Mattius. Selama di Bagdad, ia memusatkan perhatiannya kepada ilmu logika.

Nampaknya pada waktu pertama datang di Bagdad, hanya sedikit saja bahasa Arab yang telah di kuasainya. Ia sendiri mengatakan bahwa ia belajar ilmu nahwu (tata bahasa Arab) pada Abu Bakar As-Sarraj, sebagai imbalan pelajaran logika yang diberikan oleh Al-Farabi kepadanya.

Sesudah itu ia pindah ke Harran, sebagai salah satu pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil, untuk berguru kepada Yuhanna bin Jillan. Tetapi tidak lama kemudian ia meniggalkan kota itu untuk kembali ke Bagdad dan untuk mendalami filsafat sesudah ia menguasai ilmu mantik (logika), dan di Bagdad ia berdiam selama 30 tahun. Selama waktu itu ia memakai waktu untuk mengarang, memberikan pelajaran, dan mengulas buku-buku filsafat. Muridnya yang perkenal antara lain ialah Yahya bin ‘Ady.

Pada tahun 330 H. (941 M.), ia pendah ke Damsyik, dan di sini ia mendapat kedudukan yang baik dari Saifuldaulah, Khalifah dinasti Hamdan di Halab (Aleppo), sehingga ia diajak turut serta dalam suatu pertempuran untuk merebut kota Damsyik, kemudian ia menetap di kota ini sampai wafatnya pada tahun 337 H. (950 M.) pada usia 80 tahun.

Beliau adalah seorang tabib yang kenamaan, seorang ahli ilmu pasti dan seorang filsuf yang ulung. Ia juga terkenal sebagai seorang ahli dalam bahasa-bahasa Yunani, Arab, Parsi, Suria, dan Turki. Beliau melebihi Al-Kindi baik memberi penjelasan dan tafsir umum maupun dalam menerjemahkan dan menyusun kembali dari sisi kitab-kitab filsafat Yunani. Dengan demikian maka beliau dianggap sebagai yang paling terpelajar dan tajam dari para komentator karya Aristoteles. Karangan beliau tidak kurang dari 128 buah kitab, yang terbanyak ialah mengenai filsafat Yunani. Dalam karyanya Ihsanul ul-Ulum (Encyclopedia of Science) beliau memberikan suatu tinjauan umum dari segala sains. Buku ini terkenal di barat sebagai De scientists dari terjemah Latin oleh Gerard Cremona.

Al-Farabi luas pengetahuannya, mendalami ilmu-ilmu yang ada pada masanya dan mengarang buku-buku dalm ilmu tersebut. Buku-bukunya, baik yang sampai kepada kita maupun yang tidak, menunjukkan bahwa ia mendalami ilmu-ilmu bahasa, matematika, kimia, astronomi, kemiliteran, musik, ilmu alam, ketuhanan, fiqih dan mantik.

Menurut Massignon, ahli keilmuan Prancis, Al-Farabi adalah seorang filosof Islam yang pertama dengan sepenuh arti kata. Sebelum dia, memang al-Kindi telah membuka pintu filsafat Yunani bagi dunia Islam. Akan tetapi ia tidak menciptakan sistem (mazhab) filsafat tertentu, sedang persoalan-persoalan yang di bicarakan masih banyak yang belum memperoleh pemecahan yang memuaskan. Sebaliknya Al-Farabi telah dapat menciptakan suatu sistem filsafat yang lengkap dan telah memainkan peranan yang penting dalam dunia Islam, seperti peranan yang dimiliki oleh Plotinus bagi dunia barat. Juga Al-Farabi menjadi guru bagi Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan filosof-filosof Islam lain yang datang sesudahnya. Oleh kerena itu, ia mendapatkan gelar “guru kedua” (al-mu’allim as-tsani) sebagai kelanjutan Aristoteles yang mendapat gelar “guru pertama” (al-mu’allim al-awwal).

Banyak karangan yang telah di tinggalkan oleh Al-Farabi, akan tetapi karang-karang tersebut tidak banyak dikenal seperti karangan-karangan Ibnu Sina, boleh jadi karangan-karangan Al-Farabi hanya berupa risalah (karangan pendek), dan sedikit sekali yang berupa buku besar yang mendalam pembicaraannya. Kebanyakan karangannya telah hilang dan masih ada kurang lebih 30 buah saja di tulis dalam bahasa Arab.

Pada abad-abad pertengahan, Al-Farabi menjadi sangat terkenal, sehingga orang-orang Yahudi banyak yang mempelajari karangan-karangannya dan disalin pula kedalam bahasa Ibrani. Sampai sekarang salinan tersebut masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan Eropa, di samping salinan-salinan dalam bahasa Latin, baik yang di salin langsung dari bahasa Arab atau dari bahasa Ibrani tersebut.

 Sebagaian besar karangan-karang Al-Farabi terdiri dari ulasan dan perjelasan terhadap filsafat Aristotetes, Plato dan Ganelus, dalam bidang-bidang logika, filsafat, etika dan metafisika. Meskipun banyak tokoh filsafat yang diulas pikirannya, namun ia lebih terkenal sebagai pengulas Aristotetes. Ibnu Sina pernah memperlajari buku “metafisika” karangan Aristotetes lebih dari empat puluh kali, tetapi belum juga mengerti maksudnya. Setelah ia membaca buku karangan Al-Farabi yang berjudul “inti sari buku Metafisika” (Aghradl Kitabi Ma Ba’da at-Thabi’ah), baru ia mengerti apa yang selama ini dirasakan sukar.

Di antara karangan-karanganya ialah: 1. Aghradl Kitabi Ma Ba’da at-Thabi’ah 2. Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hakimain (mempertemukan pendapat kedua Filosof: maksudnya Plato dan Aristoteles). 3. Tahsil as-Sa’adah (Mencari Kebahagian). 4. ‘Uyun ul-Masail (Pokok-pokok Person). 5. Ara’u Ahlil Madinah al-Fadlilah (Pikiran-pikiran Penduduk Kota Utama- Negeri Utama). 6. Ihsha’u al-Ulum (Statistik Utama).

Dalam buku terakhir ini Al-Farabi membicarakan macam-macam ilmu dan bagian-bagiannya, yaitu ilmu-ilmu bahasa (ilmu al-lisan), ilmu mantik, ilmu Ketuhanan (al-ilm al-illahi), ilmu kedokteran (politik; al-ilm al-Madani), ilmu fiqih (ilm al-fiqih), dan ilmu kalam. Nampakya ilmu-ilmu tersebut telah dikemukakan oleh orang-orang sebelumnya. (Hanya saja Al-Farabi menambahkan dua cabang ilmu lagi, yaitu ilmu fiqih dan ilmu kalam, sabagai ilmu-ilmu ke Islam-an yang mendapat perhatian besar pada masanya.

2. Kesatuan fisafat

Masalah kefilsafatan sebenarnya telah dibahas dan dicarikan pemecahannya sejak manusia mampu menggunakan akal pikirannya. Di antara persoalan-persoalan filsafat yaitu masalah ketuhanan yang termasuk dalam pembahasan metafisika. Hal ini telah banyak dibahas para pemikir Yunani kuno yang pada mulanya mencari arkhe (asas atau prinsip) itu adalah air. Anaximenes berkata prinsip yang merupakan asal usul segala sesuatu di udara, dan kosepsi ketuhanan menurut Anaximandros telah dirumuskan secara substill (bersifat goib) dan spekulatif), sebab bagi Anaximandros arkhe dari segala sesuatu adalah apeiron (yang terbatas), sebab bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan dan meliputi segala sesuatu.

Kemudian pemikiran tentang ketuhanan dilanjutkan oleh para pemikir berikutnya dari masing-masing filosof atau tiap-tiap aliran merumuskan konsepsi ketuhanan yang sesuai dengan keyakinannya, diantara berkisar pemikiran itu ada yang saling bertentangan atau berbeda pendapat, tetapi ada pula yang saling melengkapi. Setelah sampai pada periode filsafat Islam, dalan hal ini Al-Farabi juga mengemukakan konsepsi ketuhanan, tetapi yang didasarkan pada ajaran agama Islam, yang kemudian dibahas menurut pemikiran filsafat.

Filsafat Al-Farabi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme dengan pikiran ke Islam-an yang jelas dan corak aliran Syi’ah Imamiah. Misalnya dalam soal mantik dan filsafat fisika ia megikuti Aristoteles, dalam soal etika dan politik ia mengikuti Plato, dan dalam soal metafisika ia mengikuti Plotinus. Selain itu Al-Farabi adalah seorang filsof sinkretisme (pemaduan) yang percaya akan kesatuan (ketunggalan) filsafat. Usaha pemaduan sebenarnya sudah lama dimulai sebelum munculnya Al-Farabi dan telah mendapatkan pengaruh luas dalam lapangan filsafat, terutama sejak adanya aliran Non-Platonisme. Namun usaha Al-Farabi lebih luas lagi, karena ia bukan saja mempertemukan aneka aliran filsafat yang bermacam-macam, tetapi ia juga berkeyakinan bahwa aliran-aliran tersebut pada hakekatnya satu, meskipun berbeda-beda corak dan macamnya. Pendiriannya itu Nampak jelas pada karangan-karangannya, terutama dalam bukunya yang berjudul “Al-Jami’Baina Ra’yai al-Hakamian”(penggabungan pikiran kedua filosof, Plato dan Aristoteles). Al-Farabi sangat menyayangkan terjadinya aliran-aliran filsafat, meskipun tujuannya sama, yaitu mencapai kebenaran yang Esa, sebagaimana halnya dengan aliran-aliran politik yang bermacam-macam coraknya, tatapi tujuannya adalah sama. Antara Al-Farabi dengan Ikhwanushafa , sebagai golongan Syi’ah ekstrim, terdapat pandangan yang sama, yaitu bahwa kebenaran itu hanyalah satu, sedang perbedaan pendapat dan aliran hanyalah dalam lahirnya saja. Batinnya, yaitu hakekat yang satu, hanya dapat diketahui filosof-filosof dan orang-orang yang mendalam pengetahuannya, Sebenarnya latar belakang pendirian tersebut bersifat politik, dan mempunyai tujuan yang sama bagi semua golongan Syi’ah ekstrim, yaitu menumbangkan pihak yang bekuasa dan membentuk sistem politk-sosial baru yang dikepalai oleh seorang imam yang mendapat cahaya petuntuk dari akal-Fa’al, dan memberikan petunjuk kepada manusia berdasarkan cahaya tersebut. 3. Logika Al-Farabi memberikan yang khusus terhadap mantik. Dalam lapangan mantik ia banyak meninggalkan karangan-karang. Sayangnya karangan-karangan tersebut tidak tidak sampai kepada kita, kecuali satu buku yang berjudul “Syarh kitab al-ibarah li Aristo” (penjelas terhadap buku al-Ibarah dari Aristoteles), dan beberapa karangan singkat dalam buku “Tahsil as-Sa’adah serta Ihsha-ul Ulum”. Nampaknya dalam lapamgan logika Al-Farabi banyak mengikuti Aristoteles. Pendapat-pendapatnya tantang logika adalah sebagai berikut: 1. Definisi logika: logika ialah ilmu tentang pedoman (peraturan) yang dapat menegakkan fikiran dan menunjukkannya kebenaran dalam lapangan yang tidak bisa dijamin kebenarannya. Dalam lapangan pemikiran ada hal-hal yang tidak mungkin salah, dijadikan selalu benar, dimana seseorang seolah-olah memang dijadikan untuk mengetahui dan menyakininya. Seperti hukum yang mengatakan bahwa keseluruhan lebih besar dari pada sebagian. Kedudukan logika dalam lapangan pemikiran sama dangan kedudukan ilmu nahwu dalam lapangan bahasa. 2. Guna logika: maksud logika ialah agar kita dapat membetulkan pemikiran orang lain, atau agar orang lain dapat membenarkan pemikiran kita, atau kita dapat mebetulkan pemikiran diri kita sendiri. 3. Lapangan logika: lapangannya ialah segala macam pemikiran yang bisa diaturkan dengan kata-kata, dan juga segala macam kata-kata dalam kedudukannya sebagai alat menyatakan pikiran. 4. Bagian-bagian logika: bagian-bagiannya ada delapan, yaitu: 1. Catagori (al-makulat al-‘asyr). 2. Kata-kata (al-Ibarah termas). 3, analogi pertama (al-qiyas). 4. Analogi kedua (al-burhan). 5. Jadal (debat). 6. Sofistika. 7. Retorika dan 8. Peotika (syair). Pembagian qiyas ada lima, yaitu: 1. Qiyas yang meyakinkan (qiyas burhani), yaitu qiyas yang memberikan keyakinan. 2. Qiyas jadali: yaitu qiyas yang terdiri dari hal-hal yang sudah terkenal dan bisa diterima (al-masyhurat wal musallamat). “Yang terkenal” ialah apa yang sudah biasa dipercayai oleh orang banyak, seperti keadilan itu baik dan dusta itu buruk. “yang bisa ditema” ialah pekiran yang diterima oleh orang lain, baik terkenal atau tidak. Unsur yang terpenting bagi apa yang bisa diterima (al-musallamat) ialah kepuasan barang lain, meskipun sebenarnya salah. Qiyas jadali juga dipakai untuk menimbulkan dugaan-dugaan kuat yang mendekati yakin pada diri orang lain, sedangkan apabila diteliti, maka sebenarnya tidak bisa diyakini. 3. Qiyas sofistika ialah qiyas yang menimbulkan sangkaan bahwa sesuatu yang tidak benar kelihatan benar atau sebaliknya. 4. Qiyas khatabi, yaitu qiyas yang menimbulkan dugaan yang tidak begitu kuat. 5. Qiyas syi’ri, yaitu qiyas yang memakai perasaan dan khayalan untuk dapat menarik orang lain. Logika Al-Farabi adalah kunci untuk memahami metafisikanya, perbedaan logis, yang telah kita pikirkan, memberi Al-Farabi sebuah arti penting metafisika. Dia sepenuhnya yakin bahwa pemikiran bisa dideduksi dari jenis suatu hal. Dia berkata, “ide tentang sesuatu dalam pikiran kita menyesuaikan diri dengan obyektif sesuatu itu.” Karenanya dia juga menggolongkan wujud ke dalam dua jenis, yang diperlukan dan yang bergantung. “segala yang nyata,” kata Al-Farabi, “memiliki dua jenis. Yang pertama adalah bahwa pengertian sifat dasarnya tidak mengharuskan eksistensinya, dan sebut wujud wajib.tidak mustahil befikir bahwa sesuatu yang mungkin sebagai sesuatu yang tidak ada. Dengan kata lain, sesuatu yang mungkin tidak melibatkan ketidakmungkinan dalam berbagai kontradiksinya, dan karenanya tidak bisa memiliki keharusan yang terkondisi.” Maka sesuatu yang tidak mungkin, eksistensinya bergantung pada adanya sebuah sebab. Ia pasti ada sebuah sebab. Sementara dalam dirinya sendiri, ia bisa ada atau tidak. Kita tidak bisa menganggap segala wujud sebagai sesuatu yang mungkin dalam hal ini. Dan mata rantai eksistensi yang mungkin itu mesti berakhir dalam wujud wajib yang merupakan wujud pertama seraya dengan kebenaran yang bergantung dalam logika harus merujuk pada prinsip-prinsip pertema. Ini membawa kita kepada sebab pertama atas eksistensi segala sesuatu, dan gagasan tentang eksistensi subsistensi diri yang merupakan wujud paling sempurna. Yang tersebut diatas bisa dianggap sebagai sebuah bentuk argument kosmologis atas eksistensi tuhan. Ini dipinjam oleh Albertus Magnus dan para pemikir abad pertengahan lainnya. St Anselm mencantumkannya dalam Monologium-nya. Tetapi argumen terpenting Al-Farabi tentang eksistensi Tuhan adalah argumen ontologis yang dia camtumkan dalam bukunya yang dinamakan “Mutiara Kearifan”. Al-Farabi memulainya dengan sebuah pembedaan antara “mana” dan “apa” sebuah benda dengan “mana” sebuah benda, dia memaksudkan eksistensinya, dan dengan “apa” sebuah benda dia memaksudkan sebuah kosep, arti atau definisinya. Dia mengatakan, “apa’ benda bukanlah ‘mana’-nya dan juga tidak tercantumkan dalam ‘mana’. Dengan kata lain, isi atau makna benda terlepas dari eksistensinya. Karena isi atau makna manusia identik dengan eksistensinya, konsep kita tentang makna manusia adalah konsep tentang eksistensinya. Dan Karena eksistensi tersebut telah tercakup ke dalam isi atau makna, kita tidak bisa sepenuhnya memahami isi atau makna tanpa memiliki sebuah ide tentang eksistensinya, dan mustahil mengabstraksikan eksistensi dari isi dalam pemikiran. Sehingga eksistensi tidak temasuk ke dalam isi suatu benda. Ia pasti datang dari dalam benda tersebut, karena secara logis keharusan adanya sebab mendahului keharusan adanya akibat. Dan absurd jika mengira eksistensi yang dibutuhkan oleh isi atau makna tidak bisa muncul dari dalam benda itu sendiri, juga tidak dari apa pun yang eksistensinya terlepas dari isi atau maknanya. Kita lantas sampai pada kesimpulan bahwa segala sesuatu yang eksistensinya bukan berasal dari isinya mendapatkan eksistensinya tidak berbeda dari esensi-Nya.” 4. Filsafat Metafisika Sebelum Al-Farabi muncul, persoalan-persoalan filsafat yang penting telah dibahas dan dicarikan pemecahannya, terutama oleh filosof-filosof Yunani, meskipun kedang-kadang pemecahan-pemencahan saling berlawanan. Sedah barang tentu Al-Farabi tidak dapat menajuhkan diri dari pembahasan-pemabasan itu. Di antara persoalan-persoalan tersebut ialah soal “Esa dan berbilang” dari hubungannya satu sama lain. Persoalan ini dibahas oleh filsafat Yunani atas landasan filsafat Fisika semata-mata, akan tetapi dalam aliran Iskandariah (Neo-Platonisme) dan filsafat Islam, persoalan-persoalan tersebut dipindahkan kepada landasan-landasan agama. Meskipun di antara kedua aliran tersebut terakhir ini caranya tidak berbeda, namun tujuannya sudah jauh berbeda. Tujuan aliran Iskandariah dan filsafat Islam ialah membentuk susunan alam yang dapat mempertemukan hasil-hasil pemikiran dengan ketentuan-ketentuan agama. Tujuan terpenting dalam mempelajari filsafat, menurut Al-Farabi, ialah mengetahui Tuhan, bahwa ia Esa dan tidak bergerak, bahwa ia menjadi sebab yang aktif bagi semua yang ada, bahwa ia mengatur alam ini dengan kemurahan, kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Seorang filosof atau al-Hakim¬ ialah orang yang mempunyai pengetahuan tentang Zat yang ada dengan sendirinya (al-wajib li-dzatihi). Wujud selain Tuhan, yaitu mahluk, adalah wujud yang tidak sempura. Oleh karena itu pengetahuan tentang mahluk adalah pengetahuan yang tidak sempurna. Bagaimana pendirian Al-Farabi tentang filsafat tersebut? Jawaban petanyaan ini akan terlihat pada pembicaraan berikut ini: A. Tuhan Sebelum membicarankan hakekat Tuhan dan sifat-sifat-Nya, ia terlebih dahulu membagi wujud yang ada pada dua bagian: 1. Wujud yang mumkin, atau wujud yang nyata karena lainnya (wajib-ul-wujud li ghairihi), seperti wujud cahaya yang tidak akan ada kalau sekiranya tidak ada matahari. Cahaya itu sendiri menurut tabiatnya bisa wujud dan bisa tidak wujud. Atau dengan perkataan lain, cahaya adalah wujud yang mumkin. Akan tetapi oleh karena matahari telah wujud yang nyata (wajib) karena matahari. Wujud yang mumkin tersebut menjadi bukti adanya sebab yang pertama (Tuhan), karena segala yang mumkin harus berahir pada sesuatu wujud yang nyata dan yang pertama kali ada. Bagaimanapun juga panjangnya rangkaian wujud yang mumkin itu, namun tetap membutuhkan kepada sesuatu yang memberikannya sifat wujud, karena sesuatu yang mumkin tidak bisa memberikan wujud kepada dirinya sendiri. 2. Wujud yang nyata dengan sendirinya (Wajibul Wujud li Dzatihi). Wujud itu adalah wujud yang tabiatnya itu sendiri menghendaki wujud-Nya, wujud yang apa bila di perkirankan tidak ada, maka akan timbul kemuslihatan sama sekali. Ia adalah sebab yang pertama bagi semua wujud. Wujud yang wajib tersebut dinamakan Tuhan (Allah). Tuhan adalah wujud yang sempurna, ada tanpa sesuatu sebab, kalau ada sebab bagiNya, maka adanya Tuhan tidak sempurna lagi, berarti adanya Tuhan bergantung kepada sebab yang lain. Tuhan adalah wujud yang mulia, yang tidak berawal dan tidak berakhir, sebagai sebab pertama berarti Tuhan tidak ada yang mengawali, Tuhan juga wujud yang paling mulai, kerena tidak memerlukan yang lain. Lain halnya dengan wujud yang mumkin (mahluk) yang terdiri dari zat dan bentuk, pada Tuhan tidak demikian adanya. B. Hakekat Tuhan Allah adalah wujud yang sempurna dan yang ada tanpa sesuatu sebab, karena kalau ada sebab bagi-Nya berarti ia tidak sempurna, sebab berarti tergantung kepadanya. Ia adalah wujud yang paling mulia dan yang paling dahulu adanya. Karena itu Tuhan adalah Zat azali (tanpa permulaan) dan yang selalu ada. Zat-Nya itu sendiri sudah cukup menjadi sebab bagi keabadian wujud-Nya. Wujud-Nya tidak berarti terdiri dari hule (materi. Benda) dan from (surah), yaitu dua bagian yang terdapat pada mahluk. Kalau sekiranya ia terdiri dari kedua perkara tersebut, tentunya akan perdapat susunan (bagian-bagian) pada Zat-Nya. Karena wujud Tuhan itu sempurna, maka wujud tersebut tidak mumkin terdapat sama sekali pada selain Tuhan, seperti halnya dengan sesuatu yang sempurna indahnya ialah apabila tidak terdapat keindahan semacam itu pada lainnya atau dengan perkataan lain. Ia menyadari dengan keindahan-Nya itu. Kerena itu Tuhan adalah Esa dan tidak ada sekutu-Nya. Kalau sekiranya Tuhan lebih dari satu, maka Tuhan-Tuhan tersebut ada kalanya sama-sama sempurna wujudnya sama sekali, dan hal ini tidak mumkin, atau adakalanya Tuhan-Tuhan itu berbeda (berlainan) dalam suatu sifat-sifat tertentu. Dengan demikian, maka tiap-tiap Tuan ada dua macam sifat, yaitu sifat umum yang dimiliki bersama-sama oleh Tuhan-Tuhan. Dengan perkataan lain, terdapat bagian-bagian Zat Tuhan, dan ini adalah suatu kemustahilan. Kerena Tuhan itu tunggal sama sekali maka batasan (definisi) tentang Dia tidak dapat diberikan sama sekali, karena batasan berarti suatu penyusunan, yaitu dengan memakai hule dan form, seperti halnya dengan jauhar (benda), sedangkan kesemuanya ini adalah mustahil bagi Tuhan. Semakin jelas wujud sesuatu, maka seharusnya semakin jelas pula pengetahuan kita tentang dia seta semakin teliti, dan keadaan ini seharusnya berlaku bagi wujud Tuhan sebagai wujud yang sempurna. Akan tetapi yang terjadi mala sebaliknya, yaitu ketidak jelasan pengetahuan kita tentang Tuhan. Hal ini disebabkan karena wujud Tuhan adalah wujud yang mutlak yang tidak terbatas, dan berada di luar kesanggupan manusia yang serba terbatas. C. Sifat-sifat Tuhan Dalam metafisikanya tentang ketuhanan Al-Farabi hendak menunjukkan keesaan Tuhan dan ketunggalan-Nya. Juga di jelaskan pula mengenai kesatuhan antara sifat dan zat (subtansi) Tuhan. Sifat Tuhan tidak berbeda dengan Zat-Nya, karena Tuhan adalah tunggal. Tuhan benar-benar akal (fikiran) murni, karena yang menghalang-halangi sesuatu untuk menjadi akal (pikiran) dan befikir adalah berada, maka sesuatu itu benar-benar akal (pikiran). Demikianlah keadaan wujud yang pertama (Tuhan). Juga Zat Tuhan menjadi objek pemikiran Tuhan sendiri (ma’qul), karena yang menghalang-halangi sesuatu untuk menjadi objek pemikiran ialah benda itu pula. Jadi ia adalah objek pemikiran, karena ia akal pikiran. Ia tidak membutukan sesuatu yang lain untuk memikirkan Zat-Nya sendiri, tetapi cukup dengan Zat-Nya sendiri itu pula untuk menjadi objek pemikiran. Dengan demikian, maka Zat Tuhan yang satu itu juga adalah akal (pikiran), Zat yang befikir, dan Zat yang dipikirkan (menjadi objek pemikiran Zat-Nya), atau Ia menjadi “aqal aqil dan ma’qul”. 5. Emanasi (Al-Faidl) Emanasi ialah teori tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam mahluk) dari Zat yang mesti adanya; Tuhan (Zat yang wajibul wujud). Teori ini sebenarnya terdapat pula dalam paham Neo-Platonisme. Perbedaan antara keduanya yaitu terletak uraian Al-Farabi yang ilmiah. Menurut teori emanasi Al-Farabi disebutkan bahwa Tuhan itu Esa sama sekali. Karena itu yang keluar dari pada-Nya juga satu wujud saja sebab emanasi itu timbul karena pengetahuan (ilmu) Tuhan terhadap Zat-Nya yang satu. Kalau apa yang keluar itu pun berbilangan pula. Dasar adanya emanasi tersebut ialah karena dalam pikiran Tuhan dan pikiran akal-akal terdapat kekuatan emanasi dan penciptaan. Dalam alam manusia sendiri apabila kita memikirkan sesuatu, maka tergeraklah kekuatan badan untuk mengusahakan terlasaksananya atau wujud. Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal pertama, yang mengandung dua segi. Pertama segi hakekatnya sendiri (tabi’at, wahiyya), yaitu wujud yang mumkin. Kedua segi lain yaitu wujudnya yang nyata dan yang terjadi karena adanya Tuhan sebagai Zat yang mejadikan. Jadi sekalipun akal pertama tersebut satu (tunggal), namun pada dirinya terdapat bagian-bagian yaitu adanya dua segi tersebut yang menjadi objek pemikirannya. Dengan adanya segi-segi ini, maka dapat dibenarkan adanya bilangan pada alam sejak dari akal pertama. Dari pemikiran akal pertama dalam kedudukannya sebagai wujud yang wajib (yang nyata) karena Tuhan, dan sebagai wujud yang mengetahui dirinya sendiri maka keluarlah akal kedua. Dari pemikiran akal pertama dalam kedudukannya sebagai wujud yang mumkin dan mengetahui dirinya, maka timbullah langit pertama atau benda lanjut terjauh (as-sam al-ula; al-falak al-a’la) dengan jiwanya sama sekali jiwa langit tersebut). Jadi dari dua objek pengetahuan yaitu dirinya dan wujudnya yang mumkin keluarlah dua macam mahluk tersebut yaitu benda langit dan jiwanya. Dari akal kedua timbullah akal ketiga dan langit kedua atau bintang-bintang tetap (al-kawakib ats-tsabitah) beserta jiwa dengan cara yang sama seperti yang terjadi pada akal pertama. Dari akal ketiga keluarlah akal keempat dan planet Saturnus (Zuhal), juga beserta jiwanya. Dari akal keempat keluarlah akal kelima dan planet Yupiter (al-Musytasra) beserta jiwanya. Dari akal kelima keluarlah akal keenam dan Planet Mars (Mariiah) beserta jiwanya. Dari akal keenam keluarlah akal ketuju dan matahari (as-Syams) beserta jiwanya. Dari akal ketuju keluarlah akal kedelapan dan Planet Venus (az-Zuharah) juga beserta jiwanya. Dari akal kedelapan keluarlah akal kesembilan dan planet Mercurius (‘Utarid) beserta jiwanya pula. Dari akal kesembilan keluarlah akal kesepuluh dan bulan (Qomar). Dengan demikian maka dari satu akal keluarlah satu akal dan satu planet beserta jiwanya. Dari akal kesepuluh sesuai dengan dua seginya yaitu wajib-ul-wujud karena Tuhan maka keluarlah manusia beserta jiwanya dan dari segi dirinya yang merupakan wujud yang mumkin, maka keluarlah unsur empat dengan perantara benda-benda langit. Tuhan menciptakan, kata Al-Farabi karena Dia maha tahu dan maha kuasa. Tuhan bukan hanya sadar tetapi juga sadar dengan sendirinya. Dia mengetahui dirinya-Nya sendiri dan karenanya juga melibatkan pengetahuan akan kreativitas tertinggi-Nya. dan pengetahuan atas diri sendiri yang dimiliki Tuhan ini menjadi sebab bagi segala eksistensi lainnya. Dalam pengetahuan pertama, sang Satu mengetahui diri-Nya sendiri dan akibatnya mengetahui kekuasaan tertinggi-Nya pengetahuan akan kekuasaannya ini menimbulkan pengetahuan akan objek-objeknya dan Dia mengetahui segala. Pengetahuan-Nya tentang diri-Nya sendiri lantas menjadi sebab bagi pengetahuannya atas yang lain. Pengetahuan pertama tidak terpisah dari esensi-Nya, sementara pengetahuan kedua pengetahuan tentang segala bukanlah esensi-Nya, tetapi di dalamnya ada pluralitas tak terhingga sesuai dengan pluralitas tidak berada dalam esensi-Nya melainkan hadir sesudahnya. Kerena itu pengetahuan pertama yang merupakan esensi tidak mengakui pluralitas, tetapi pluralitas hadir setelah esensi. Pengetahuan ketuhanan kedua menghasilkan penciptaan Akal pertama merupakan sebuah kesatuan yang sempurna, imateril dan sadar. Ia adalah ciptaan pertama dan karenanya paling dekat dengan sang Pencipta. Dengan merujuk kepada yang Satu, ia adalah sebuah wujub wajib dan sebuah kesatuan. Tetapi dalam dirinya sendiri, sebagai kesatuan yang disebabkan dan diciptakan, ia adalah wujud yang mungkin dan sebuah pluralitas. Karena itu ia menghasilkan dua kesatuan: (1) akal kedua (esistensi murni dan imateril seperti dirinya sendiri) sejauh merupakan sebuah wujud wajib dan mengetahui yang Satu. Dan (2) langit pertama (sebuah kesatuan gabungan dengan tubuh dan ruh), sejauh merupakan sebuah wujud yang mungkin dan mengetahui dirinya sendiri. Akal terakhir mengasilkan dua hal: ruh yang membumi dan unsur-unsur materi, yang paling akhir berhubungan dengan langit. Dari mulai pengetahua kedua (cakrawala ketuhanan) sampai dengan penciptaan segala akal adalah ‘alam-i-amr. Di luar ini, dari langit pertama sampai ke pertikel-partikel benda yang paling kecil dan nyata adalah ‘alam-i-khalq. ‘alam-i-amr adalah dunia yang terdiri dari kesatuan-kesatuan imateril rasional obyektif. Dan ‘alam-i-khalq adalah dunia eksistensi meteri indrawi. Manusia mendiami sebuah posisi pertengahan antara ‘alam-i-amr dan ‘alam-i-khaq, karena ia adalah wujud gabungan, tersusun dari organisme jasmaniah dan ruh. Al-Farabi mendefinisikan tubuh manusia sebagai “sebuah struktur fisik dengan satu prinsip vital yang bertempat dalam hati”. Dia mendefinisikan ruh sebagai “sebuah substansi yang unik, abadi, tidak membesarkan dan memiliki kesadaran.” Ini memperjelas bahwa dia dengan tajam membedakan hidup dari ruh. Dia lebih lanjut menegaskan hal ini dengan mengatakan bahwa sensasi bersama dengan kemampuan mental yang lebih rendah seperti imajinasi adalah termasuk ke dalam tubuh, sementara yang termasuk ke dalam tuh hanyalah aktifitas-aktifitas lebih tinggi yang benar-benar bersifat intelektual dan tidak memerlukan instrument organ-organ jasmaniah. Ruh manusia, kata Al-Farabi, bekerja dengan sebuah kekuatan yang bernama akal teoretis yang kedudukannya terhadap ruh adalah seperti kedudukan semir terhdap cermin. Dalam risalahnya, “tentang kecerdasan,” Al-Farabi menggambarkan empat tingkatan akal teoretis ini. Dalam hal ini, dia mengembangkan doktrin Al-Kindi. Tingkatan pertama adalah kecerdasan potensial seperti yang diungkapkan Al-Kindi. Akal ini hadir sebagai sebuah kapasitas dalam ruh anak kecil yang, ketika terwujud sebagai aktivita, menjadi kecerdasan aktif. Al-Farabi yakin bahwa jalan yang dilalui dari kecerdasan potensial menuju kecerdasan aktif dipengaruhi oleh kecerdasan penguasa yang bersifat imeteril, abadi dan tak dapat dihancurkan. Kecerdasan potensial tidak dibantu oleh kecerdasan penguasa. Kecerdasan penguasah bukanlah sebuah pengembangan aktivitas-aktivitas mental yang rendah, tetapi ia adalah sesuatu yang sangat berlainan dari aktivitas-aktivitas tersebut, termasuk ke dalam kelas wujud yang berbeda dan karenanya adalah sesuatu yang diperoleh. Kecerdasan ini yang diperoleh. Ia adalah penyempurnaan segala aktivitas rasional manusia sehingga ia menjadi bentuk semua kemampuan yang lebih rendah dan tidak sesuatu pun selainnya yang bisa menjadi sebuah bentuk baginya. KESIMPULAN Filsafat Al-Farabi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme dengan pikiran ke Islam-an yang jelas dan corak aliran Syi’ah Imamiah. Misalnya dalam soal mantik dan filsafat fisika ia megikuti Aristoteles, dalam soal etika dan politik ia mengikuti Plato, dan dalam soal metafisika ia mengikuti Plotinus. Selain itu Al-Farabi adalah seorang filsof sinkretisme (pemaduan) yang percaya akan kesatuan (ketunggalan) filsafat. Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut Akal pertama, yang mengandung dua segi. Pertama segi hakekatnya sendiri (tabi’at, wahiyya), yaitu wujud yang mumkin. Kedua segi lain yaitu wujudnya yang nyata dan yang terjadi karena adanya Tuhan sebagai Zat yang mejadikan. Jadi sekalipun akal pertama tersebut satu (tunggal), namun pada dirinya terdapat bagian-bagian yaitu adanya dua segi tersebut yang menjadi objek pemikirannya. Dengan adanya segi-segi ini, maka dapat dibenarkan adanya bilangan pada alam sejak dari akal pertama. Dari pemikiran akal pertama dalam kedudukannya sebagai wujud yang wajib (yang nyata) karena Tuhan, dan sebagai wujud yang mengetahui dirinya sendiri maka keluarlah akal kedua. Dari pemikiran akal pertama dalam kedudukannya sebagai wujud yang mumkin dan mengetahui dirinya, maka timbullah langit pertama atau benda lanjut terjauh (as-sam al-ula; al-falak al-a’la) dengan jiwanya sama sekali jiwa langit tersebut). Jadi dari dua objek pengetahuan yaitu dirinya dan wujudnya yang mumkin keluarlah dua macam mahluk tersebut yaitu benda langit dan jiwanya. DAFTAR PUSTAKA Majid Fakhry. SEJARAH FILSAFAT ISLAM sebuah peta kronologis, Bandung, 2002 Ahmad. Hanafi, M,A. PENGANTAR FILSAFAT ISLAM, cetakan Pertama, Jogyakarta, 1969 Ahmad. Hanafi, M,A. PENGANTAR FILSAFAT ISLAM, cetakan kedua, Jogyakarta, 1976 Drs. Sudarsono, SH. M.si. FILSAFAT ISLAM, Jakarta, 2004 Ali Mahdi Khan. DASAR-DASAR FILSAFAT ISLAM Pengantar ke Gerbang Pemikiran, Bandung, 2004

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: